Hahaha jangan dikira browser ya gan, ini blog ane

Pemuda Hanya Bisa Bercermin

| Jumat, 12 Maret 2010
Tidak hanya terinspirasi dari hati naluri penulis tetapi dikutip juga dari beberapa surat bacaan dan buku-buku yang penulis pernah baca. Jadi kalau ada kemiripan dari segala hal penulis mohon maaf, karna ini cuma sebagai penyegaran jiwa.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pemuda Hanya Bisa Bercermin

Semangat yang tak pernah kunjung padam terlekat dijiwa seorang pemuda, ketika kita terkejutkan oleh lamunan yang begitu dalam membentang dibenak kita, saat itu pula wajah seorang pemuda telah tercoreng dengan kejadian realita yang sudah mengunjang bumi ini। Apakah kita tak sadar oleh hentakan masyarakat yang sudah membuat jiwa pemuda ini adalah sebagai sampah yang mudah untuk dilempar kedalam bak sampah yang penuh dengan kotoran, apakah kita tak sadar ketika semua orang telah berteriak dengan seruan semua jiwa orang yang telah berpolitik ini adalah sampah masyarakat, apakah kita sebagai pemuda hanya diam membisu membiarkan hal ini mencoreng wajah dan jiwa kita didepan masyarakat, masyarakat yang dulunya telah membesarkan sebutan PEMUDA sebagai generasi bangsa?

Coba kita merenungkan sejarah yang sudah membuktikan betapa peristiwa-peristiwa besar yang dilalui digerakkan oleh pemuda. Sejarah telah membuktikan pula bahwa pemuda merupakan penggerak utama revolusi suatu bangsa. Sejarah telah mencatat gerakan kebangkitan nasional pertama Boedi Oetomo 1908 yang dipelopori oleh Dr Sutomo dan kawan-kawan dalam menggugah semangat kebangsaan atau nasionalisme sebagai dasar dari kebangkitan nasional dalam melawan penjajahan asing. Kesadaran moral kebangsaan ini dua puluh tahun kemudian telah melahirkan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang intinya membangun rasa persaudaraan senasib, sebangsa, setanah air, serta satu bahasa nasional, Indonesia. Ikrar suci itu pun kemudian menjelma menjadi gerakan politik kemerdekaan tujuh belas tahun kemudian. Tepatnya 17 Agustus 1945 yang dipelopori oleh Soekarno-Hatta dan kawan-kawan yang tak lain adalah orang-orang muda. Begitu pula gerakan mahasiswa 66 (Tritura), gerakan mahasiswa 74 (peristiwa Malari), gerakan mahasiswa 78 (tentang Aliran Kepercayaan), gerakan mahasiswa 80-an, dan gerakan mahasiswa Mei 1998, merupakan gerakan revolusioner pemuda Indonesia yang gigih berani membela dan memperjuangkan suara rakyat kecil yang tertindas. Sikap idealisme dan patriotisme mahasiswa/ pemuda yang rela mengorbankan apa saja. Bahkan, nyawa sekali pun inilah yang perlu ditauladani oleh para elit politik kita yang tengah mengalami demoralisasi dan mediokrasi. Kini para elit politik kita mulai dari eksekutif, legeslatif, sampai yudikatif tengah terjerumus kedalam kemiskinan dan kedangkalan moral. Semua elit politik sudah kedangkalan pikiran, semuanya ingin instan saja tanpa mau memikirkan hukum, norma-norma yang berlaku ditatanan bangsa ini. Korupsi menjadi momok yang amat memalukan dan memprihatinkan di negeri ini. Setiap hari kita disuguhkan sajian amat tak bermoral oleh Dewan Perwakilan Rakyat adalah wakil rakyat yang harus memperjuangkan hak dan kepentingan rakyat. Tapi, apa lacur. DPR malah menggerogoti uang negara yang sejatinya berasal dari pajak yang dibayarkan oleh rakyat. Demi hidup yang mewah dan kesenangan pribadi mereka menghambur-hamburkan uang rakyat tanpa rasa malu sedikit pun. Tak jarang dari mereka yang terang-terangan melakukan korupsi. Mulai dari proyek pengadaan barang dan jasa, program studi banding ke luar negeri yang banyak menguras kocek negara, sampai praktik jual-beli hukum. Perilaku elit-elit politik kita makin hari makin memuakkan nurani saja. Tanpa ada niatan mereka untuk berubah. Kita menyaksikan bagaimana sesama mereka saling “membunuh” dan membuka aib sesama. Mereka terus berebut kue kekuasaan yang menggerus nurani dan akal sehat mereka. Demi kekuasaan yang sesaat mereka rela mengebiri dan mengorbankan apa saja. Termasuk hak rakyat kecil untuk hidup layak. Sementara itu perbaikan kehidupan rakyat ditelantarkan begitu saja. Rakyat dibiarkan miskin dan terlunta-lunta menanti nasibnya yang tak kunjung pasti. Kemakmuran dan kesejahteraan semakin menjauh dari relung kehidupan mereka. Kelaparan karena tak bisa membeli makan, putus sekolah kerana tak punya biaya, menjadi pengemis di jalan hanya demi sesuap nasi menjadi pemandangan rutin yang tak sedap dipandang mata kita. Tanpa disadari kalau perilaku elit politik kita telah mengimbas di dunia akademik-mahasiswa (aktivis pemuda). Tak sedikit dari mereka yang “berjuang” di organisasinya masing-masing hanya untuk menjadi anggota dewan yang terhormat. Dengan berpartisipasi menjadi ketua cabang, ketua daerah, sampai menjadi ketua umum organisasinya di tingkat nasional. Kemudian, setelah lulus dari organisasinya masing-masing, mereka ramai-ramai mencalegkan diri menjadi anggota dewan. Mereka berharap, akan terjadi sebuah transformasi diri dari hidup yang biasa menjadi sejahtera. Dari yang “miskin” menjadi tidak terlalu “miskin”. Harapan akan transformasi diri pribadi inilah telah menanamkan sikap atau mental korup dalam benak anak-anak muda ini. Tanpa disadari bahwa perilaku dan sikap korup sehari-hari sedang mereka jalani ( sebuah contoh tak perlu disampaikan mungkin teman sekalian sudah mendengar dan mengetahui hal itu). Mungkin semua hal ini yang sudah terjadi bukan hanya tidak disadari tetapi hanya sedikit menutup mata dan teliga karna kita sudah tergiur dengan kemewahan yang sudah membuat kita bercermin sehingga menjadi sosok suatu tujuan yang nyata untuk menunjang kehidupan yang serba mewah. Sebenarnya tujuan itu hanyalah kesenangan sementara yang tidak ada artinya kalau hanya berakhir didalam jeruji yang penuh dengan kekejaman. Cobalah kita mulai sekarang menanamkan jiwa yang sesuai dengan impian masyarakat yang bisa berpikir untuk menyikapi perbedaan sebagai rahmat, bukan sebagai musuh yang harus disingkirkan. Membangun rasionalitas berpolitik yang mengedepankan etika moral dan akal sehat. Menjauhkan diri dari sikap tamak harta dan benda yang menghalalkan segala cara. Berpolitik luhur untuk membangun peradaban bangsa yang mulia, tanpa harus menghancurkan sesama kita. Dengan rasionalitas dan moralitas politik akan terlihat lebih seperti seni dan kemuliaan. Bukan kejam dan busuk yang selama ini kita lihat. Kasantunan, kedewasaan, dan keluhuran budi dalam berpolitik merupakan keniscayaan dalam membangun peradaban sebuah bangsa. Tanpa itu semua nihil rasanya kalau peradaban yang agung akan tercipta. Semoga dengan semua ini semangat juang pemuda dijaman dulu bisa tertanamkan kembali kedalam lubuk hati kita yang paling dalam sehingga kita bisa menjadi generasi bangsa yang diharapkan.

0 komentar:

Posting Komentar