Hahaha jangan dikira browser ya gan, ini blog ane

APATIS

| Sabtu, 31 Juli 2010
Dalam kita melangkah untuk mengejar jati diri yang maksimal,,,sangat kita perlukan semangat yang bergelora dan selalu bersikap optimis dalam menghadapi semua halangan rintangan, demi bisa tercapainya sebuah makna kehidupan.tapi dikala kita sedang melangkah dengan beban yang kita emban apakah kita harus menjadikan apatis sebuah icon diri kita?disaat kita selalu mempertanyakan keadaan apakah kita harus selalu merasa ini adalah sebuah penekanan atau hanya sebuah kemalasan. dan seketika pertanyaan tak kunjung datang lagi apakah kita hanya bisa mengandalkan icon diri (apatis),cobalah sedikit kita merenungkan makna dari sebuah perjalanan dan perjuangan.bagaimana sich seharusnya kita akan bersikap. Berikanlah semangat itu kepada diri kita agar perjuangan kehidupan kita bisa lebih bermakna lagi dan akan merasakan perjuangan sejati.
Jangan lah kita buat diri ini menjadi terbuai dengan icon itu karena itu tak pantas menjadi jati diri seorang pemuda(i) dan ingat lah perjuangan nama pemuda(i) dijaman itu...janganlah itu kita jadikan sebuah icon tontonan semata tapi cobalah resapkan kedalam diri kita,,,agar kita bisa lebih memaknai kehidupan dan perjuangan jati diri ini...(perjalanan tak bisa kita nilai dengan sebuah keadaan yang kita lakukan tapi semangat adalah kunci sukses untuk menilai itu semua) jangan lah merasa jenuh dengan apa yang kita lakukan karna itu akan membuat kita menjadi terkebelakang.mungkin apa yang sudah kita lakukan adalah maksimal tapi apakah maksimal itu datang dari arti sebenarnya atau cuma maksimal dalam kata kejenuhan.

Sedikit kutipan yang ane ambil dari buku yang berjudul 5 cm.."biarkan keyakinan kamu, 5 centi meter mengantung mengambang didepan kamu dan sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang menatap lebih bnayak dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat keatas, lapisan tekat yang seribu kali keras dari baja, hati yang berkerja lebih keras dari biasanya serta muluy yang selalu berdoa ,,percaya 5 centimeter dedepan kening kamu."



Salam sahabat yang selalu merasa tak mengerti antara kondisi dan keadaan.

KEBEBASAN BERPIKIR DISALAH ARTIKAN

|

Indah sekali kalau kita bisa berpikir dengan akal sehat tapi berpikir dengan akal sehat itu seperti apa dan bagaimana sampai sekarang pun sulit untuk mengambil kesimpulan itu karena kita bebas untuk berpikir tapi secara logika kita berpikir itu mempunyai makna yang besar setidaknya mencoba untuk bisa berpikir yang baik dan tidak saling merugikan. Berpikir bukan hanya dengan mengunakan suatu kesalahan tapi cobalah berpikir tanpa memandang siapa yang kita dengar dan siapa yang kita liat,jangan lah kita berpikir seperti jalan yang tak ada arahnya seperti jalan yang buntu. Pikiran kita akan membentuk suatu sikap, apabila kita salah dalam berpikir maka sikap kita juga akan melakukan kesalahan padahal buruk baiknya seseorang ditentukan dengan sikapnya.

Kebanyakan orang memandang hanya dari depan jadi yang menonojol adalah karakter dari sikap yang kita buat atau kita lakukan. coba kita sedikit merenung apa keuntungan dari mengambil suatu kesimpulan dalam berpikir kalau kita cuma melihat dan mendengarkan suatu cerita atau suatu tipu daya seseorang yang bisa membuat kita terbodohkan dari IQ kita sendiri,,,kita bisa berpikir, berkreasi dengan luas tapi sementara kita dengan mudah terkena tipu daya yang mungkin sangat merugikan kita...apalah gunanya kita mempunyai mata mempunyai perasaan mempunyai niat,,,kalau cuma bisanya menyimpulkan menyimpulkan dan selalu menyimpulkan sesuatu dengan hal yang picik tanpa kita mengetahui suatu kebenaran yang ada ,,, apakah itu yang dinamakan suatu pemikiran yang mempunyai suatu kecerdasan atau kepintaran (IQ) kalau kita itu hanya untuk dibuat bodoh.....sangat menyedihkan orang yang mempunyai kecerdasan dan terlahir untuk menjadi penerus bangsa yang hanya bisanya menyimpulkan hal-hal yang picik,..,,,bagaimana daerah, kota, negaramu mau maju bung kalau cuma segitu kemampuan kita yang bisanya membuat orang jelek menggugurkan, mencela,,,mencemoooh...,jangan bangga dulu menjadi orang yang besar, orang yang berdidikasai tinggi tapi cobalah pelajari pemikiran kita…

semoga sedikit tulisan tak bermakna ini bisa membuat kita membuka wawasan…dan ingat ini adalah jamannya demokrasi cuy,,bukan dijaman purbakala....lanjutkan kretifitasmu..buat lah bangga dirimu sendiri,,,karna hati juga bisa merasakan suatu pemikiran.


hati tak berucapkan janji,
karna hati tak bisa berjanji,
memberikan isyarat untuk dikaji,
agar selalu bersikap terpuji.


CERMIN POLITIK

|
Sangat asyik kalau kita bergelut dan melihat kenyataan dunia politik, bagi ku politik itu ada sebuah kehidupan yang membuat kita bisa berada didalam realita kehidupan yang membuat kita bisa berpikir bagaimana kehidupan yang nyata. Sekarang kita sudah tak bisa menutup mata lagi telah banyak aksi-aksi masyarakat, mahasiswa yang berbentuk ormas maupun organisasi-organisasi dalam ruang lingkup universitas bahkan dikalangan luarpun telah sering kita perdengarkan nama-nama yang sering menjadi perbincangan masyarakat luas.
Tapi pernah kah kita terbayang seketika kekuasaan itu hadir didepan kita dan suatu tujuan yang berbasiskan dengan niat buat semua kalangan yang bisa menjadikan suatu perubahan. Apakah semuanya itu sudah terwujud? apa hanya omongan belaka yang banyak mengobral janji bagi masyarakat yang tidak mengetahui apa itu janji? alangkah menyedihkan apabila kita berjanji hanya untuk memberi kepuasan semata tanpa memikirkan sebab dan akibat yang akan kita perbuat.
Ada sedikit contoh dalam bentuk organisasi masih banyak yang mementingkan keinginan sendiri tanpa melihat kepentingan orang banyak sehingga cara untuk mencapai keinginan tersebut dilakukan cara-cara yang melangar ethis suatu alur dalam kita berpolitik…walau itu hanya didalam ruang lingkup organisasi kecil, tapi itu semua sudah tidak menutup kemungkinan menyebar luas dari kecil hingga besarnya organisasi, apakah yang seperti itu yang kita inginkan yang hanya bisa bercermin dan selalu bercermin dengan keadaan yang salah? mau dibawa kemana kenyataan ini kalau kita hanya bisa mencontoh dan terus mencontoh tanpa ada suatu perbaikan. kalau kita bisa berpikir, ini suatu tahap untuk kita memulai berpikir kemana harus kita membawa jiwa kita dalam berpolitik, tanpa kita harus berpikir apakah suatu keputusan yang kita buat ini adalah terbaik, mungkin keputusan itu adalah untuk suatu tujuan yang bermakna, tapi apakah kita sadar bahwa keputusan seorang yang idealis dalam dunia aktivis itu adalah suatu keinginan untuk mencari kekuasaan keberadaannya yang cuma mementingkan keinginan sendiri dengan mengatas namakan keinginan orang banyak, agar mereka terasa puas dengan impiannya, apakah semua itu sudah benar???dan masih banyak contoh yang saya rasa semuanya sudah tau tentang tahap bin tahap.
Kita sudah banyak tertidur dengan semua itu karna kita sudah bercermin dengan apa yang sudah terjadi selama ini sehingga suatu angan dan tujuan yang berniat baik akan menjadi suatu musibah bagi seorang penguasa.
Bangunlah jiwa dengan niat yang baik dan nurani yang sehat. Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka di pisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta, terus hidup sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan. Coba kita renungkan kutipan dari Khalil Gibran, Ada orang mengatakan kepadaku, “ Jika engkau melihat ada hamba tertidur, jangan dibangunkan, barangkali ia sedang bermimpi akan kebebasan. “ Kujawab. “ Jika engkau melihat ada hamba tertidur, bangunkan dia dan ajak lah berbicara tentang kebebasan.

saya yang telah lelah dalam keinginan untuk mengetahui arti politik sebenarnya.

(borneoNews) 11/07/10

KEMULIAN KETURUNAN (AHLULBAIT) RASULULLAH SAW

|
Memandang ahlulbait dan keturunan Rasulallah saw. sebagai orang-orang yang mulia sama sekali tidak mengurangi makna atau arti firman Allah swt. dalam surat Al-Hujurat : 13 berikut ini:
يَآ اَيُّهَا النَّـاسُ إنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ اَوْ أنْثىَ وَجَعَلنَاكُمْ شُعُوبًا اَوْ قَبَآئِل َلِـتَعَارَفُوْا, إنَّ أكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أتقَاكُم
“Wahai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian terhadap Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu “.
Dan tidak pula mengurangi makna sabda Rasulallah saw. yang mengatakan : “Tiada kelebihan bagi orang Arab atas orang bukan Arab (‘ajam), dan tiada kelebihan bagi orang bukan Arab atas orang Arab kecuali karena taqwa”.
Begitu juga firman Allah Al-Hujurat : 13 dan hadits Rasulallah saw. diatas ini tidak bertentangan dengan surat Al-Ahzab : 33 yang menegaskan :
إنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا
“Sesungguhnya Allah hendak menghapuskan noda dan kotoran (ar-rijsa) dari kalian, ahlul-bait, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya”
Kemuliaan yang diperoleh seorang beriman dari kebesaran taqwanya kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kemuliaan yang bersifat umum, yakni hal ini dapat diperoleh setiap orang yang beriman dengan jalan taqwa. Lain halnya dengan kemuliaan ahlul-bait dan keturunan Rasulallah saw. Mereka memperoleh kemuliaan berdasarkan kesucian yang dilimpahkan dan di karuniakan Allah swt. kepada mereka sebagai keluarga dan keturunan Rasulallah saw. Jadi kemuliaan yang ada pada mereka ini bersifat khusus, dan tidak mungkin dapat diperoleh orang lain yang bukan ahlul-bait dan bukan keturunan Rasulallah saw..
Akan tetapi itu bukan berarti bahwa keturunan Rasulallah saw. tidak diharus- kan bertaqwa kepada Allah dan Rasul-Nya. Malah sebaliknya, Allah swt. ber- firman dalam surat Al-Ahzab:30-31 bahwa bila mereka (ahlul-bait) berbuat maksiat akan dilipatkan dua kali dosanya dan bila mereka berbuat kebaikan akan dilipatkan dua kali pahalanya. Dengan memperbesar ketaqwaan pada Allah dan Rasul-Nya mereka ini memperoleh dua kemuliaan yaitu kemuliaan khusus dan kemuliaan umum. Sedangkan orang-orang selain mereka ini dengan ketaqwaan kepada Allah dan Rasul-Nya hanya memperoleh kemulia an umum. Itulah yang membedakan martabat kemuliaan ahlul-bait dan keturunan Rasulallah saw. dengan martabat kemuliaan orang-orang selain ahlul-bait dan keturunan Rasulallah saw.. Ketinggian martabat yang di berikan Allah swt. kepada mereka (ahlul-bait) ini merupakan penghargaan Allah swt. kepada Rasul-Nya junjugan kita Muhammad saw..
Begitu pun juga kemuliaan para sahabat yang setia dan patuh pada Nabi saw. Allah swt. telah menyatakan pujian dan penghargaan-Nya atas kesetiaan mereka kepada Allah swt. dan Rasul-Nya serta keikhlasan mereka dalam perjuangan menegakkan kebenaran Allah swt. dimuka bumi. Hal ini diungkap kan dalam firman-firman Allah swt. (Aali Imran ; 110 ; Al-Baqarah ; 143 ; At Tahrim ; 8 ; Al-Fath ; 18 ; At-Taubah ; 100 ; Al-Anfal : 64 dan lain-lain).
Keturunan nabi saw. merupakan orang-orang yang memiliki fadhilah dzatiyyah (keutamaan dzat) yang dikaruniakan Allah swt. kepada mereka melalui hubungan darah/pertalian nasab dengan manusia pilihan Allah swt. dan paling termulia Rasulallah saw. Jadi bukan pilihan atau maunya mereka sendiri untuk menjadi keturunan nabi saw. dan bukan berdasarkan fadhilah pengamalan baik mereka melainkan telah menjadi qudrat dan kehendak Ilahi sejak mula. Karena itu tidak ada alasan apapun untuk merasa iri hati,dengki terhadap keutamaan mereka. Hal inilah justru yang dipertanyakan Allah swt. dalam firman-Nya:
اَمْ يَحْسُدُوْنَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ
“..Ataukah (apakah) mereka (orang-orang yang dengki) merasa irihati (hasut) terhadap orang-orang yang telah diberi karunia oleh Allah “ (An-Nisa’ : 54)
Orang-orang yang dihasuti dan yang diberi karunia dalam ayat tersebut adalah Keturunan/Ahlul Bait Rasulallah saw. silahkan rujuk:
Syawahidut Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, hal.143 hadits ke 195, 196,197,198; Manaqib Al-Imam Ali bin Abi Thalib, oleh Al-Maghazili Asy-Safi’I, hal.467 hadits ke 314 ; Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, hal.142, 328 dan 357 cet, Al-Haidariyah hal.121, 274 dan 298, cet.Istanbul ; Ash-Shawa’iqul Muhriqah, oleh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i, hal.150 cet.Al- Muhammadiyah, hal. 91 cet. Al-Maimaniyah, Mesir ; Nurul Abshar oleh Asy-Syablanji hal.101, cet.Al-’Utsmaniyah, hal.102 cet.As- Sa’idiyah ; Al-Ittihaf Bihubbil Asyraf, oleh Asy-Syibrawi Asy-Syafi’i, hal. 76 ; Rasyafah Ash-Shadi, oleh Abu Bakar Al-Hadrami, hal. 37 ; Al-Ghadir, oleh Al-Amini jilid 3, hal. 61 dan masih banyak lagi lainnya.
Juga fadhilah dzatiyyah yang dikaruniakan Allah swt. kepada para keturunan Rasulallah saw. sama sekali tidak lepas dari rasa tanggung jawab mereka yang lebih berat dan lebih besar daripada yang harus dipikul orang lain. Mereka ini harus selalu menyadari kedudukannya ditengah-tengah ummat Islam. Mereka wajib menjaga diri dari ucapan-ucapan, perbuatan dan sikap yang dapat mencemarkan kemuliaan keturunan Muhammad Rasulallah saw. Mereka wajib pula menyadari tanggung jawabnya yang lebih besar atas citra Islam dan ummatnya.
Dengan demikian maka kewajiban menghormati mereka yang dibebankan oleh syari’at kepada kaum muslimin dapat diwujudkan dengan sebaik-baiknya. Tidak akan ada kesan bahwa para keturunan Rasulallah saw. menonjol-nonjol diri menuntut penghormatan dari orang lain, karena kaum muslimin yang menghayati syari’at Islam pasti menempatkan mereka pada kedudukan sebagaimana yang telah menjadi ketentuan syari’at. Kami rasa kemuliaan dan kedudukan mereka perlu dipahami oleh kaum muslimin, terutama oleh orang-orang keturunan Ahlul Bait sendiri sebagai pihak yang paling berkewajiban menjaga kemuliaan martabat Rasulallah saw. dan Ahlul Bait beliau saw..
“Suatu kesalahan atau kekeliruan tidak akan disorot oleh masyarakat setajam kesalahan atau kekeliruan yang diperbuat oleh orang-orang keturunan Ahlul-Bait. Apalagi pandangan masyarakat yang dengki atau tidak senang dengan Ahlul-Bait, mereka ini akan lebih memperuncing dan mempertajam kesalahan dan kekeliruan yang diperbuat oleh orang keturunan Ahlul-Bait serta menyembunyikan hadits-hadits yang berkaitan dengan kemuliaan mereka ini.
Ada lagi orang yang karena tidak senang atau dengki kepada keturunan Nabi saw. berani mengatakan dengan konkrit bahwa keturunan ini telah putus dan tidak ada sama sekali atau masih belum konkrit adanya nasab tersebut. Omongan mereka ini menjiplak omongan orang kafir Quraisy kepada Rasulallah saw. waktu putra beliau saw. yang terakhir wafat dan belum sempat memiliki keturunan. Mendengar bisikan-bisikan golongan pengingkar ini kita teringat akan peristiwa nyata pada masa-masa kelahiran agama Islam. Kisah ringkasnya seperti berikut:
“Ketika putera Rasulallah saw. yang bernama Qasim wafat dalam usia kecil, salah seorang tokoh musyrikin Quraisy bernama ‘Ash bin Wa’il bersorak-sorak gembira. Ia bersorak bahwa Rasulallah saw. tidak akan mempunyai keturunan lebih lanjut. Ulah-tingkah dan ucapan ‘Ash bin Wa’il inilah yang menjadi sebab turunnya wahyu Ilahi Surah Al-Kautsar kepada Rasulallah saw. Ayat terakhir surat Al-Kautsar (uraian singkat ayat ini dihalaman berikutnya) telah menegaskan: ‘Sungguhlah, orang yang membencimu itu lah yang abtar (putus keturunan)’. Firman Allah swt. terbukti dalam kenyataan yaitu: Keturunan Rasulallah saw. berkembang-biak dimana-mana, sedangkan keturunan ‘Ash bin Wa’il putus dan hilang ditelan sejarah” ! ‘Ash bin Wa’il sudah tiada bersisa, tetapi teriakannya masih mengiang-ngiang ditelinga golongan pengingkar pembenci keturunan Rasulallah saw. tersebut.
Bila Rasulallah saw. tidak mempunyai keturunan, tentu beliau saw. tidak menantang kaum Nasrani, Najran bermubahalah. Kisah peristiwanya terabadikan dalam Al-Qur’an surat Aali ‘Imran : 61 (baca keterangan singkat selanjutnya). Kecuali ini pun, Rasulallah saw. tidak akan diperintah Allah swt. supaya berkata kepada kaum musyrikin Quraisy: “Katakanlah (hai Muhammad) Aku tidak minta upah apa pun dari kalian kecuali kasih sayang dalam (hubungan) kekeluargaan (yakni keluarga/ahlul-bait Muhammad saw.)”. (Asy-Syura : 23). Ayat Asy-Syura ini turun untuk keluarga Rasulallah saw. yakni Imam ‘Ali, Siti Fathimah Az-Zahra, Al-Hasan dan Al-Husain [ra]. Kita bisa rujuk dalam:
Syawahidut Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi jilid 2, hal.130, hadits ke 822 s/d 828 dan hadits ke 832, 833, 834 dan 838 ; Ash-Shawa’iqul Muhriqah, oleh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i cet.Al-Maimaniyah, Mesir hal. 101,135 dan 136, dalam cet.Al-Muhammadiyah, Mesir hal. 168 dan 225 ; Tafsir Ath-Thabari jilid 25, hal.25 cet.ke 2 Mushthafa Al-Halabi, Mesir, hal.14 dan 15 cet.Al-Maimaniyah, Mesir ; Manaqib Ali bin Abi Thalib oleh Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’i hal.307 hadits ke 352 ; Dzhakhairul ‘Uqba oleh Ath-Thabari Asy-Syafi’i hal.25 dan 138 ; Kifayah Ath-Thalib oleh Al-Kanji Asy-Syafi’i hal.91,93,313 cet.Al-Haidariyah, hal.31,32,175,178 cet.Al-Ghira ; Al-Fushul Al-Muhimmah oleh Ibnu Shabagh Al-Maliki hal.11 ; Ad-Durrul Mantsur oleh As-Suyuthi jilid 6 hal.7; Al-Mustadrak Al-Hakim jilid 3 hal.172 ; Ihyaul Mayt oleh As-Suyuthi Asy-Syafi’i (catatan pinggir) Al-Ittihaf hal.110 ; Tafsir Al-Qurthubi jilid 16 hal.22 ; Tafsir Ibnu Kathir jilid 4 hal.112 ; Tafsir Fakhrur Razi jilid 27 hal.166 cet.Abdurrahman Muhammad, Mesir jilid 7 hal.405-406 ; Tafsir Al-Baidhawi jilid 4 hal.123, cet.Mushthafa Muhammad, Mesir, jilid 5 hal.53 cet.Darul Kutub, hal. 642 cet.Al’Utsmaniyah ; Tafsir An-Nasafi jilid 4, hal. 105 ; Majma’uz Zawaid jilid 7, hal.103 dan jilid 9 hal. 168 ; Fathul Bayan fi Maqashidil Qur’an oleh Shiddiq Al-Hasan Khan jilid 8 hal.372 ; Yanabi’ul Mawaddah oleh Al-Qundusi hal.106,194,261 cet.Istanbul, hal.123,229,311 cet.Al-Haidariyah ; Fathul Qadir oleh Asy-Syaukani jilid 4 hal.537 cet.kedua, jilid 4 hal.22 cet.pertama, Mesir…Dan masih banyak lagi yang tidak saya cantumkan disini.


ni bukan ane yang buat lo..hehehe....ni ane ambil dari catatan Ibn Hasan Alhabsyi
syukron yang dah mau baca dan share ke yang lainya.....