Hahaha jangan dikira browser ya gan, ini blog ane

KEHIDUPAN MAHASISWA DI PERANTAUAN

| Jumat, 11 Juni 2010
oleh abi nazar dan lisa agustina
-------------------------------------------------------------------------------------------------
siapa sih yang gak ingin tinggal dikampung halaman sendiri? ya jelas semua orang ingin tinggal dan hidup dekat dengan orang-orang yang ia cintai, namun kadang orang punya pilihan lain, Pilihan berpisah dengan keluarganya demi menuntut ilmu di daerah lain, sehingga perubahan status pun terjadi dari siswa menjadi mahasiswa. Mahasiswa adalah anggota masyarakat yang berada pada tataran elit karena kelebihan yang dimilikinya, yang dengan demikian mempunyai kekhasan fungsi, peran dan tanggung-jawab. Dari identitas dirinya tersebut, mahasiswa sekaligus mempunyai tanggung jawab intelektual, tanggung jawab sosial, dan tanggung jawab moral.
Awal-awal ketika keberangkatan dan tiba diperantauan sungguh semangat yang sangat besar kita rasakan maklum dompet masih tebal , siap tuk beraksi sehingga kita lupa dengan beban yang kita punya padahal kehidupan anak kampus atau mahasiswa mempunyai banyak problematika, apalagi Mahasiswa perantauan. Sebagai mahasiswa yang berasal dari daerah yang berbeda, tentunya memiliki sebuah ciri khas baik itu secara budaya, maupun pergaulan dengan daerah yang menjadi tempat untuk melanjutkan pendidikannya. Tentunya banyak hal-hal yang dianggap ANEH baik itu secara pergaulan, tutur kata, adat istiadat,dsb. Sebagai contoh: mahasiswa yang berasal dari sebuah daerah yang masih mendepankan semangat kekeluargaan, gotong royong ketika berhadapan dengan sebuah lingkungan yang berbeda atau cenderung individualis tentunya menjadi semacam pertentangan budaya. Dan hal ini tentunya akan saling mempengaruhi mana yang akhirnya lebih dominan. Memang fenomena ini sering kali terjadi pada mahasiswa yang berasal dari suatu daerah yang memiliki ciri khas budaya dalam pergaulan maupun hubungan sosial. Nilai-nilai budaya yang dimilikinya habis terkikis oleh sesuatu budaya yang baru dan tidak sedikit yang menimbulkan dampak yang negatif. Sehingga rasa keingin tahuan budaya orang lain menjadi sebuah tujuan utama dan membuat kita terjerumus dalam gelapnya pergaulan yang mengakibatkan kita bergaul dengan orang/kelompok yang salah (seperti kelompok narkoba, free sex, aliran sesat dll).
Kebebasan mahasiswa perantauan bisa diperkirakan bebas dari pengawasan orang tua ataupun pihak-pihak lain. Tak banyak pula, Mahasiswa perantauan yang menyalahgunakan kebebasan, diantaranya kebebasan dalam mengkonsumsi minum-minuman keras (narkoba) dan free sex merupakan masalah yang paling sering didengar oleh masyarakat. Tidak jarang, kita menemukan mahasiswa perantauan yang berpacaran di dalam kamar kos, sedangkan Mahasiswa perantauan bebas melakukan apa saja di dalam kamar tersebut. Hal seperti ini pun sudah dianggap biasa bagi masyarakat luas ataupun kalangan mahasiswa itu sendiri.
Pergaulan juga berdampak ke dalam diri pribadi mahasiswa itu sendiri. Pergaulan juga bisa mempengaruhi tingkat kemalasan seseorang. Mahasiswa yang bergaul secara berlebihan bisa mengakibatkan mereka malas dalam berbagai hal. Dari malas belajar, malas beribadah ataupun malas jenis yang lain. Malas belajar mengakibatkan nilai IPK mereka anjlok dan kuliah yang keteteran. Selain itu, pergaulan yang berlebihan juga mengganggu waktu beribadah mahasiswa. Sehingga tidak jarang bila mendengar alasan klasik mereka ketika ditanya mengenai intensitas beribadah mereka. Pergaulan yang bebas sangatlah membahayakan diri pribadi mahasiswa itu sendiri. Sehingga sangat dibutuhkan perhatian yang ekstra dari berbagai pihak agar tidak merugikan diri sendiri, keluarga, agama dan masyarakat. Beda halnya bagi Mahasiswa perantauan yang memiliki niat untuk menjadi seorang mahasiswa yang baik dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang bersifat positif seperti mengikuti organisasi-organisai kampus, daerah (IKPM), pengajian, kajian, dakwah ataupun kegiatan yang lain. Sehingga bisa mencetak mahasiswa yang berkompeten dalam berbagai bidang.
Problematika-problematika para mahasiswa perantauan yang telah diuraikan diatas, diharapkan bisa menjadi bahan renungan bagi para orang tua ataupun pihak – pihak yang terkait, untuk tidak hanya memberikan kebebasan saja tapi juga tetap mengontrol Mahasiswa perantauan agar hal-hal yang tidak diharapkan terjadi pada diri Mahasiswa perantauan. Berdasarkan pendapat-pendapat mahasiswa yang berada di perantauan bahwa permasalahan-permasalahan seperti itu bisa teratasi dengan dukungan dari para orang tua. Bila masa muda Mahasiswa perantauan sudah rusak, maka siapa lagi yang bisa meneruskan perjuangan bangsa ini ????? cuussss hati kami telah lelah tu merangkai kata..dah..

Mencari ilmu sungguh berarti
Tapi tak lupa memberi hati
Meraih mimpi adalah harapan sejati
Tapi tak lupa berhati-hati (SAN)